Penyakit 1000 Wajah, Lupus


Penyakit lupus adalah suatu gangguan sistem kekebalan yang terjadi di dalam tubuh. Penyakit ini termasuk ke dalam penyakit autoimun yang menyebabkan sel-sel tubuh rusak dan mengalami peradangan.
Sederhananya, penyakit lupus adalah kondisi di mana tubuh memproduksi antibodi secara berlebih. Pada keadaan normal, antibodi  berfungsi unuk melindungi tubuh dari berbagai zat asing yang dapat menyebabkan penyakit.
Namun, pada orang yang mengalami penyakit lupus (Odapus), antibodi yang dimilikinya justru menyerang sel-sel tubuhnya sendiri. Sehingga, odapus mudah mengalami penyakit infeksi dan peradangan – akibat sel sehat diserang oleh antibodi.

Tipe
Ada beberapa jenis penyakit lupus yang ada, yaitu:
  • Systemic lupus erthematosus (SLE), merupakan jenis lupus yang paling sering terjadi. Jenis penyakit ini menyerang berbagai jaringan seperti, sendi, kulit, otak, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah.
  • Discoid lupus erthematosus, adalah jenis lupus yang menyerang jaringan kulit, sehingga menyebabkan ruam-ruam.
  • Neonatal lupus adalah penyakit lupus yang menyerang bayi baru lahir. Penyakit ini dialami oleh bayi yang dilahirkan ibu yang memiliki kelainan antibodi.
  • Lupus akibat obat-obatan, gangguan ini biasanya hanya dialami dalam waktu yang singkat saja. Jadi beberapa obat-obatan mungkin saja menimbulkan efek samping yang gejalanya mirip lupus. Kondisi pasien akan membaik kalau penggunaan obat dihentikan.
  • Subacute cutaneous lupus erythematosus, merupakan lupus yang membuat jaringan kulit luka dan terbakar ketika terpapar sinar matahari.

Gejala

Lupus adalah penyakit yang dikenal sebagai ‘penyakit 1000 wajah’. Sebutan ini muncul akibat penyakit kronis ini menimbulkan gejala dan tanda yang hampir mirip dengan penyakit lainnya. Sehingga, penyakit ini cenderung sulit untuk dideteksi dini. Berikut adalah beberapa gejala dan tanda yang biasanya dialami oleh odapus, menurut American College of Rheumatology:
  • Nyeri sendi
  • Sendi bengkak
  • Mulut atau hidung mengalami luka yang tak kunjung sembuh berhari-hari hingga berbulan-bulan.
  • Di dalam urin terdapat darah atau bahkan protein (proteinuria)
  • Terdapat ruam-ruam di berbagai permukaan kulit
  • Rambut rontok
  • Demam
  • Kejang-kejang
  • Dada sakit dan sulit bernapas akibat peradangan pada paru-paru

Penyebab

1. Faktor genetik

Para peneliti dari John Hopkins Center, pertama kali tertarik oleh faktor penyebab penyakit lupus, dari adanya hubungan antara gen keluarga dengan penderita. Nyatanya, keberadaan penderita lupus dalam sebuah keluarga, dapat meningkatkan kecenderungan penyakit lupus pada anggota keluarga lain. Selain itu, anggota keluarga penderita lupus, ketika melakukan tes medis, cenderung positif hasilnya.
Lalu, dengan adanya gen yang memicu berkembangnya suatu penyakit, bukan berarti juga orang tersebut dapat langsung terkena atau dapat mewariskan penyakit lupus. Di lain hal, para peneliti yakin kalau penyebab penyakit lupus ada kaitannya dengan kondisi lingkungan yang buruk. Tapi sayangnya, mereka masih belum bisa menentukan faktor mana yang paling kuat menyebabkan seseorang menderita lupus.

2. Hormon

Nyatanya, wanita 9 kali lebih berisiko terkena lupus dibandingkan pria. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh hormon seks yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh perempuan dan laki-laki, di mana keduanya jelas berbeda. Tubuh wanita menghasilkan dan menggunakan hormon  estrogen yang lebih banyak, sementara tubuh laki-laki bergantung pada hormon yang disebut androgen.
Estrogen dikenal sebagai hormon “immuno-enhancing“, yang berarti bahwa wanita memiliki sistem kekebalan tubuh lebih kuat daripada pria, mengingat kebutuhan evolusioner bagi wanita untuk bertahan hidup, berperan melahirkan, dan mengasuh anak-anak mereka. Namun akibatnya, saat sistem imun ini berbalik menyerang tubuh, wanita akan lebih mudah mengalami penyakit autoimun.

3. Lingkungan

Selain itu, beberapa faktor lingkungan telah dikaitkan menjadi penyebab penyakit lupus. Para peneliti telah menghubungkan antara lupus dan berbagai racun lingkungan, contohnya seperti asap rokok, gel natrium silika, dan merkuri. Virus herpes zoster (virus yang menyebabkan herpes zoster), dan sitomegalovirus digadang-gadang juga menjadi salah satu penyebab seseorang terkena lupus.

Pengobatan
Biasanya pengobatan yang dilakukan adalah dengan cara memberikan pasien obat untuk meringankan gejala atau gangguan kesehatan lain. Obat yang diberikan seperti:

1. Obat anti-peradangan nonsteroid (NSAIDs)

Obat ini termasuk obat penghilang rasa sakit yang biasa diberikan pada odapus untuk mengatasi rasa nyeri, demam, dan sendi bengkak yang ia alami. Contoh dari jenis obat NSAIDs adalah naproxen, ibuprofen, dan motrin. Sebagian besar obat NSAIDs tidak membutuhkan resep dokter, namun beberapa obat yang memiliki dosis dan efek samping yang kuat harus menggunakan resep.

2. Obat antimalaria

Obat ini sebenarnya digunakan untuk mencegah dan mengatasi penyakit malaria. Namun dalam hal ini, obat malaria dibutuhkan oleh odapus untuk mengatasi gejala nyeri sendi, ruam kulit, peradangan pada selaput jantung, serta demam – yang juga biasanya terjadi pada pasien malaria.
Bahkan berbagai penelitian telah menunjukkan kalau pasien lupus yang diberikan obat malaria memiliki angka harapan hidup yang lebih pajang ketimbang yang tidak diberika obat ini. Jenis obat malaria yang diberikan yaitu, Hydroxychloroquine (Plaquenil), Chloroquine (Aralen), Quinacrine (Atabrine).

3. Kortikosteroid

Obat jenis ini dibutuhkan oleh pasien lupus untuk mencegah peradangan yang sangat rentan terjadi pada tubuhnya. Namun, obat kortikosteroid memiliki efek samping jangka panjang seperti menaikkan berat badan, membuat tulang lebih keropos, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

4. Imunosupresan

Obat imunosupressan bekerja untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Tentu, obat jenis ini sangat dibutuhkan oleh para odapus yang sistem kekebalan tubuhnya terlalu dominan. Beberapa jenis obat yang biasanya digunakan yaitu azathioprine (Imuran, Azasan), mycophenolate (CellCept), leflunomide (Arava) and methotrexate (Trexall).
Penggunaan obat imunosupressan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, menurunkan kesuburan, dan meningkatkan risiko kanker. sementara, efek samping jangka pendek yang mungkin terjadi yaitu mual, diare, dan demam.