Autisme, Gejala dan Pengobatan



Autisme adalah gangguan otak yang mempengaruhi perilaku penderita dalam berkomunikasi dengan orang lain. Autisme menyebabkan gangguan perilaku yang membatasi minat penderitanya.

Gejala dan tingkat keparahaan autisme berbeda di setiap penderita. Berdasarkan data WHO, autisme terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia. Sedangkan Indonesia belum ada data pasti mengenai jumlah penderita autisme.


Gejala

Berikut adalah beberapa gejala yang biasanya timbul:
1. Gejala Komunikasi dan Interaksi Sosial
Sekitar 25-30% anak dengan autisme kehilangan kemampuan berbicara, meski mereka mampu berbicara saat kecil. Sedangkan 40% anak penderita autisme tidak berbicara sama sekali. Gejala lain terkait komunikasi dan interaksi sosial adalah:
  • Tidak merespons saat namanya dipanggil, meskipun kemampuan pendengarannya normal.
  • Tidak pernah mengungkapkan emosi, dan tidak peka terhadap perasaan orang lain.
  • Tidak bisa memulai atau meneruskan percakapan, bahkan hanya untuk meminta sesuatu.
  • Sering mengulang kata (echolalia), tapi tidak memahami penggunaannya secara tepat.
  • Sering menghindari kontak mata dan kurang menunjukkan ekspresi
  • Nada bicara yang tidak biasa, misalnya datar seperti robot.
  • Lebih senang menyendiri, seperti ada di dunianya sendiri.
  • Cenderung tidak memahami pertanyaan atau petunjuk sederhana.
  • Enggan berbagi, berbicara, atau bermain dengan orang lain.
  • Menghindari dan menolak kontak fisik dengan orang lain.

2. Gejala Pola Perilaku
  • Sensitif terhadap cahaya, sentuhan, atau suara, tapi tidak merespons terhadap rasa sakit.
  • Rutin menjalani aktivitas tertentu, dan marah jika ada perubahan.
  • Memiliki kelainan pada sikap tubuh atau pola gerakan, misalnya selalu berjalan dengan berjinjit.
  • Melakukan gerakan repetitif, misalnya mengibaskan tangan atau mengayunkan tubuh ke depan dan belakang.
  • Hanya memilih makanan tertentu, misalnya makanan dengan tekstur tertentu.
Segera periksakan ke dokter bila terlihat gejala seperti:
  • Kehilangan kemampuan berbicara atau berinteraksi.
  • Tidak memberi respon bahagia atau senyum hingga usia 6 bulan.
  • Tidak meniru suara atau ekspresi wajah hingga usia 9 bulan.
  • Tidak mengoceh hingga 12 bulan.
  • Tidak memberi gestur tubuh seperti melambai hingga usia 14 bulan.
  • Tidak mengucapkan satu katapun hingga usia 16 bulan.


Penyebab

Faktor yang diduga bisa memicu autisme antara lain:
1. Jenis kelamin laki-laki lebih berisiko 4 kali lipat dibanding perempuan
2. Faktor genetik, 2-18% orang tua dari anak penderita memiliki risiko anak kedua dengan gangguan yang sama
3. Kelahiran prematur, bayi lahir pada kehamilan 26 minggu atau kurang
4. Terlahir kembar, 0-31% kemungkinan autisme pada salah satu anak memengaruhi kembarannya juga. Pengaruh autisme lebih besar pada kembar identik, yakni 36-95%
5. Usia, Semakin tua usia saat memiliki anak, semakin tinggi risiko memiliki anak autis. Pada laki-laki, memiliki anak di usia 40an, risiko memiliki anak autis lebih tinggi 28%. Risiko meningkat menjadi 66% pada usia 50-an. Sedangkan pada wanita, melahirkan di atas usia 40an, meningkatkan risiko memiliki anak autis hingga 77% bila dibandingkan melahirkan di bawah usia 25 tahun.
6. Gangguan lainnya, seperti distrofi otot, fragile X syndrome, lumpuh otak atau cerebral palsy, sindorm down dan sindrom rett.
7. Paparan selama kandungan, seperti konsumsi alkohol atau obat-obatan (terutama obat epilepsi) pada masa kehamilan.

Pengobatan
Beberapa metode terapi bagi penderita autisme adalah:
Terapi perilaku dan komunikasi.
Terapi ini memberikan sejumlah pengajaran pada penderita, mencakup kemampuan dasar sehari-hari, baik verbal maupun nonverbal, meliputi:
  • Applied behaviour analysis (ABA). Terapi Analisis Perilaku Terapan membantu penderita berperilaku positif pada segala situasi. Terapi ini juga membantu penderita mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan meninggalkan perilaku negatif.
  • Developmental, individual differences, relationship-based approach (DIR). DIR atau biasa disebut Floortime, berfokus pada pengembangan hubungan emosional antara anak autis dan keluarga.
  • Occupational therapy. Terapi okupasi mendorong penderita untuk hidup mandiri, dengan mengajarkan beberapa kemampuan dasar, seperti berpakaian, makan, mandi, dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Speech therapy. Terapi wicara membantu penderita autis untuk belajar mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
  • Treatment and education of autistic and related communication-handicapped children(TEACCH). Terapi ini menggunakan petunjuk visual seperti gambar yang menunjukkan tahapan melakukan sesuatu. TEACCH akan membantu penderita memahami bagaimana melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya untuk berganti pakaian.
  • The picture exchange communication system (PECS). Terapi ini juga menggunakan petunjuk visual seperti TEACCH. Namun PECS menggunakan simbol, untuk membantu penderita berkomunikasi dan belajar mengajukan pertanyaan.
Terapi keluarga
Terapi keluarga berfokus membantu orang tua dan keluarga penderita autisme. Melalui terapi ini, keluarga akan belajar cara berinteraksi dengan penderita, dan mengajarkan penderita berbicara dan berperilaku normal.
Obat-obatan.
Walau tidak bisa menyembuhkan autisme, obat-obatan dapat diberikan guna mengendalikan gejala. Contohnya, obat antipsikotik untuk mengatasi masalah perilaku, obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang, antidepresan untuk meredakandepresi, dan melatonin untuk mengatasi gangguan tidur.