Miliki Gejala yang Sama, Kenali Perbedaan Diabetes Melitus dan Diabetes Insipidus


Diabetes insipidus adalah kondisi yang menyebabkan penderita memiliki frekuensi buang air kecil yang meningkat dan rasa haus yang berlebihan, membuat tidur malam terganggu dan dapat mengompol. Gejala ini mirip dengan diabetes melitus, namun penyebabnya berbeda. Pada diabetes melitus, terdapat masalah insulin atau kadar gula darah yang tinggi. Sedangkan diabetes insipidus, dipengaruhi oleh kerja hormon dan ginjal terhadap urin.


Gejala

Gejala diabetes insipidus antara lain:
1. Rasa haus yang berlebihan
2. Pengeluaran urine yang terlalu banyak, dapat mencapai 15 liter jika pengidap mengonsumsi caridan dalam jumlah banyak.
3. Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil.
4. Sering mengompol.

Pada penderita anak-anak, gejala yang dialami:
1. Tangisan yang tidak dapat ditenangkan.
2. Sulit tidur.
3. Demam.
4. Muntah.
5. Diare.
6. Pertumbuhan terhambat.
7. Berat badan turun.
8. Mengompol.
9. Nafsu makan turun.
10. Rasa lelah terus-menerus.


Penyebab

Penyebab diabetes insipidus adalah gangguan kelenjar hipofisis atau ginjal. Cairan yang berlebih akan dikeluarkan ginjal dalam bentuk urine. Jika dehidrasi, kelenjar hipofisis akan mengeluarkan hormon anti-diuertik (ADH) ke ginjal untuk menahan cairan tubuh dan mengurangi produksi urine.

Berdasarkan penyebabnya, diabetes insipidus terbagi menjadi:
1. Diabetes insipidus sentral, kondisi yang disebabkan karena kerusakan kelenjar hipotalamus atau hipofisis sehingga menyebabkan gangguan penyimpanan dan pengeluaran ADH. Kerusakan ini terjadi akibat operasi tumor, meningitis, kelainan genetik, atau trauma kepala.

2. Diabetes insipidus nefrogenik, kondisi karena adanya kelainan pada tubulus ginjal akibat kelainan genetik, penyakit ginjal kronik, atau konsumsi obat tertentu seperti lithium atau demeclocycline.

3. Diabetes insipidus gestasional, kondisi yang terjadi selama kehamilan dan bersifat sementara

4. Polidipsia primer atau diabetes insipidus dispogenik atau polidipsia psikogenik, kondisi karena konsumsi cairan berlebihan, yang tidak berhubungan dengan masalah produksi atau respin ADH.


Faktor Risiko

Risiko terbesar terserang penyakit ini adalah pria dan faktor genetik


Pengobatan

Pada diabetes insipidus sentral:
1. Meningkatkan konsumsi cairan untuk mencegah dehidrasi.
2. Pemberian desmopresin (hormon antidiuretik buatan), yang cara kerjanya serupa dengan hormon antidiuretik tubuh, yaitu dengan menghentikan produksi urine berlebih dari ginjal saat jumlah cairan dalam tubuh rendah. Penggunaan desmopresin harus sesuai dengan resep dokter.
Pada diabetes insipidus nefrogenik:
1. Menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi.
2. Menghentikan konsumsi obat-obatan yang diduga menyebabkan diabetes insipidus dan menggantinya dengan obat-obatan lain yang fungsinya sama.